Taaruf VS Pacaran: 5 Pertanyaan Sebelum Anda Pacaran

Oleh Burhan Sodiq

Setiap orang pasti ingin menikah kah? Hanya saja menikah dengan cara apa itu yang perlu dipikirkan. Apakah dengan cara haram atau dengan cara halal. Karena setiap insan pasti dipertemukan dengan pasangan halalnya.

Sebagian besar lebih memilih dengan pacaran. Mereka berpikir bahwa pacaran adalah cara yang paling tepat untuk mendapatkan pasangan. Padahal dalam pacaran banyak sekali hal hal negatif yang dilakukan.

Lalu bagaimana dengan taaruf? Pernah dengar istilah ini ya? Ya istilah taaruf, pasti pernah kan ya. Istilah ini adalah istilah yang sangat mashur di kalangan anak muda. Biasanya mereka bilang, jangan pacaran tapi taaruf saja. Gitu kan ya? Bener engga sih kalimat macam itu?

Memang banyak salah paham soal istilah ini. Mereka memahami dengan banyak istilah dan pengertian. Maka perlu adanya pelurusan pelurusan pemahaman soal ini. Agar tidak membuat ambigu dan membuat bingung.

Taaruf Dianggap Pacaran Islami

Beberapa orang memandang bahwa taaruf adalah bagian dari pacaran islami. Saling berkenalan lalu saling berjanji untuk menikahi. Padahal waktunya masih lama. Komitmen dibuat berdua dan akhirnya merasa aman dengan pola hubungan tersebut.

Lelaki dan perempuan merasa aman dengan hubungan itu. Merasa tidak berdosa karena judulnya adalah taaruf. “Kan taaruf, bukan pacaran?” begitu kilahnya.

Anggapan ini akhirnya menjadi sebuah pendapat umum. Bahwa paaran memang taaturf dan taaruf memang pacaran. Susah sekali menjelaskan kepada teman teman muda urusan ini.

Padahal keduanya sungguh sangat berbeda dan emang tidak sama. Taaruf bukanlah pacaran dan pacaran bukan bagian dari taaruf. Saya banyak bertanya kepada orang orang soal taaruf. Umumnya mereka memahami memang taaruf hanya untuk orang orang khusus saja. Khusus yang seperti apa yang dia maksud? Yakni orang orang yang sudah ngaji. Sudah paham islam. Dan tidak lagi awam soal islam.

Barangkali itulah kenapa banyak orang masih menghindari taaruf. Mereka lebih suka berpacaran. Mereka lebih suka berkenalan dimana saja, lalu jika cocok dan suka melanjutkan ke hubungan yang lebih serius. Seperti apakah hubungannya?

Seperti merasa bahwa dia sudah menjadi bagian dari hidup orang itu. Apa apa berdua dan melakukan apa saja lebih enak bersama dia. Kalau dia tidak ada, serasa hampa. Penuh luka dan nestapa. Haddduh…

Orang melakukan apa yang mereka tahu. Jika mereka tidak tahu, maka mereka tidak akan melakukannya. Jika mereka tahunya hanya pacaran, maka mereka akan senantiasa pacaran. Karena baginya, pacaran adalah jalan satu satunya untuk mendapatkan cinta.

Padahal ada alternatif lain. Hanya saja mereka tidak tahu dan tidak ngerti. Apakah orang yang tidak tahu akan melakukan apa apa yang dia tidak tahu? Tidaklah. Mereka tidak akan melakukannya. Karena mereka tidak ada ilmu soal itu.

Asumsi asumsi orang lain soal taaruf memang begitu sempit. Menurut mereka ini adalah bagian dari kekolotan hidup. Tidak menarik dan sangat kuno. Padahal bisa jadi kekunoan itulah yang akan menyelamatkan. Kekunoaan yang lebih berhati hati pada soal fitnah daripada kemoderenan yang terlalu longgar terhadap segala macam fitnah.

Maka perlu kiranya kita membuka mata banyak orang soal taaruf. Mengetengahkan apa saja sebenarnya taaruf itu. Apakah ia sejenis makhluk alien yang sangat asing. Ataukah ia adalah hal yang sangat biasa dan tidak perlu dirisaukan lagi.

Taaruf bukan pacaran islami. Taaruf bersih dari dugaan dugaan semacam itu. Ia tidak identik dengan pacaran, karena ada beberapa hal yang sangat membedakan taaruf dengan pacaran. Pesan itu harus selalu didengungkan agar umat paham. Jika tidak, nanti umat bisa salah paham. Tidak mengerti pemahaman yang benar.

Kalau masyarakat mau sadar, sebenarnya konsep taaruf ini lebih sederhana daripada pacaran. Beberapa hal yang menjadikannya lebih sederhana adalah pada aspek sebab dan akibat yang akan ditimbulkan. Pacaran lebih rumit dan lebih panjang jangka waktunya. Selain itu juga lebih tidak jelas statusnya. Kadang kadang pacaran hanya dijadikan sebagai sebuah modus saja. Daripada nampak jomblo, maka mereka mengambil seseorang untuk dijadikan pacar.

SEBELUM ANDA PACARAN,

COBA JAWAB PERTANYAAN INI.

  1. Apakah anda benar benar butuh pacar?
  2. Kalaulah anda membutuhkannya, untuk apa memiliki seorang pacar?
  3. Apa akibat yang sangat parah jika anda tidak punya pacar?
  4. Apakah memang benar pacaran itu adalah cara anda untuk mendapatkan pasangan hidup?
  5. Apakah anda tidak percaya bahwa pasangan hidup bisa didapatkan melalui taaruf?

 

Seorang remaja sering tidak sadar bahwa saat dia membuka sebuah komitmen pacaran, maka dia akan melibatkan dirinya pada sebuah ikatan. Ikatan ini bukan hanya sekedar ikatan biasa, tetapi sebuah ikatan kepemilikan.

“Kamu adalah milikku.”

“dan aku adalah milikmu.”

Usia mereka yang cukup muda, seringkali salah memahami soal kata memiliki, Seolah olah jika sudah memacari berarti berhak untuk mengatur apa saja yang harus dikerjakan. Boleh melarang apa saja yang tidak diinginkan. Bahkan boleh menentukan nasib pasangan yang bersangkutan.

Tentu saja jika ini terjadi, maka pacaran itu adalah sebuah belenggu yang membelit leher. Sakit membelitnya, sampai sampai nalar mereka yang melakukan menjadi kerdil karenanya.

Ketidakcakapan mereka mengelola emosi dan keinginan, menjadikan pacaran rentan untuk disalahgunakan. Kekerasan bisa kapan saja terjadi atas nama pacaran. Karena merasa memiliki itulah akhirnya menjadikan seorang lelaki menjadi perkasa dan sok berwenang. Padahal dia hanya cuman beberapa senti lebih dari sekedar teman. Dia bukan suami yang menafkahi, bukan pula ayah yang melindungi.

Jadi di kala anda masih sangat muda, apakah anda memang benar benar membutuhkan sosok pacar?

Lalu pertanyaan lain yang nampaknya bisa masuk akal adalah, kenapa remaja menggesa dirinya dalam urusan pacaran. Jikalau mereka bersepakat mengatakan bahwa pacaran adalah tindakan pra nikah. Lalu kenapa mereka mengawali pacaran di usia yang sangat belia. Padahal mereka pun tak paham kapan akan menikah dengan pasangannya.

Jadi di sisi ini, mereka pun nampak kebingungan dengan konsep hidup yang mereka pilih sendiri. Pacaran dianggap pra nikah, sementaranya nikahnya kapan mereka juga tidak merencanakan.

Di sisi lain, mereka yang menikah dengan mendahuluinya pacaran juga tidak akan menjamin bahwa pernikahan itu akan berlangsung selamanya. Sebab mempertahankan pernikahan bukan soal bagaimana lebih saling mengenal saja, tetapi juga lebih karena niat awal yang kuat untuk beribadah kepada Rabbnya.

Lalu, buat apa pacaran?

Beberapa orang melakukan pembelaan. Mereka memilih jalan pacaran karena tidak mungkin bagi mereka menikahi orang yang baru mereka kenal. Apalagi di dunia yang modern seperti ini. Banyak orang yang tidak baik, meski nampak sangat baik. Banyak orang yang tidak jujur, meski nampak sangat jujur.

Tidakkah kita lupa bahwa dalam dunia apapun, atau dengan bahasa lain, dalam bidang apapun, ada kita kenal istilah rekomendasi. Anda memilih belanja di sebuah toko, karena apa? Karena seseorang yang dekat dengan anda merekomendasikan toko itu. Anda percaya orang itu maka anda mengiyakan rekomendasinya.

Anda ingin pergi ke dokter? Menyerahkan urusan kesehatan bukan soal gampang. Tentu saja anda butuh pendapat teman baik anda. Maka teman baik anda merekomendasikan seorang dokter untuk bisa anda kunjungi. Inilah rekomendasi.

Dalam hal memilih jodoh kita juga butuh rekomendasi. Rekomendasi inilah yang akan mematahkan anggapan bahwa kita memilih jodoh layaknya memilih kucing di dalam karung. Ada orang orang yang terpercaya yang dengan rekomendasinya, menyarankan kepada kita untuk memilih dia. Sehingga semakin banyak yang merekomendasikan, itu artinya semakin kuat reputasi dia di masyarakat.

“Saya pengen tahu ustad, bagaimana taaruf itu. Apakah saja alurnya. Agar kita tidak seperti membeli kucing dalam karung.”

Seorang penanya dalam sebuah seminar menyatakan keinginantahuannya. Memang pertanyaan ini sering muncul dalam banyak seminar. Apa sih taaruf itu? Apa saja yang harus dipersiapkan.

 

Catatan: PEMBAHASAN LEBIH LENGKAP 

Anda bisa mendapatkan pembahasan lebih lengkap di buku Taaruf Terindah Menuju Pernikahan Barakah tulisan Burhan Sodiq. Harga 35 ribu rupiah. Hubungi no Wa 08121537768. Pembelian dalam jumlah banyak akan mendapatkan diskon yang sangat menarik.

Silakan sukai dan bagikan:

Burhan Sodiq

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *