Sedikit Bicara Dan Banyak Mendengar

Oleh Burhan Sodiq

SEBAGAI seorang mukmin, tentu saja kita diperintahkan untuk banyak melakukan introspeksi dan muhasabah. Melihat kepada diri secara lebih menyeluruh dan melakukan banyak hal-hal baik di masa depan nanti.

Adapun kaitannya dengan diri sendiri, setiap mukmin diminta untuk sedikit bicara dan banyak mendengar. Kenapa sedikit bicara? Ada beberapa hal yang bisa dijabarkan dalam persoalan ini.

Rasulullah SAW bersabda: “Iman seorang hamba tidak akan istiqamah, sehingga hatinya istiqamah. Dan hati seorang hamba tidak akan istiqamah, sehingga lisannya istiqamah. Dan orang yang tetangganya tidak aman dari kejahatan-kejahatannya, tidak akan masuk surga.” (H.R. Ahmad, no. 12636, dihasankan oleh Syaikh Salim Al-Hilali di dalam Bahjatun Nazhirin, 3/13).

Menahan diri dari banyak bicara akan menghindarkan kita dari keburukan keburukan. Karena orang yang banyak bicara cenderung akan melakukan kesalahan kesalahan. Lisan yang selalu terjaga akan membuat pemiliknya memiliki derajat takwa.

Jika anak Adam memasuki pagi hari sesungguhnya semua anggota badannya berkata merendah kepada lesan, “Takwalah kepada Allah di dalam menjaga hak-hak kami, sesungguhnya kami ini tergantung kepadamu. Jika engkau istiqomah, maka kami juga istiqamah, jika engkau menyimpang (dari jalan petunjuk), kami juga menyimpang. (H.R. Tirmidzi, no. 2407; dihasankan oleh Syaikh Salim Al-Hilali di dalam Bahjatun Nazhirin, 3/17, no. 1521) (Jami’ul ‘Uluum wal Hikam, 1/511-512)

Sedangkan hari ini, banyak sekali kondisi dimana kita diminta untuk selalu berkomentar. Mengomentari orang lain dan selalu merasa paling berhak untuk berkomentar dengan komentar komentar yang tidak baik. Padahal bisa jadi kita tidak tahu persoalannya apa. Akan tetapi lisan kita dengan mudah menilai dan melakukan vonis kepada orang lain.

Betapa pentingnya lisan ini, maka sampai sampai siapa saja yang bisa menjaga diri dari lisannya akan mendapatkan jaminan jannah atau surga.

“Siapa yang menjamin untukku apa yang ada di antara dua rahangnya dan apa yang ada di antara dua kakinya, niscaya aku menjamin surga baginya.” (H.R. Bukhari, no. 6474; Tirmidzi, no. 2408; lafazh bagi Bukhari).

Mengingat ketika seseorang melakukan serampangan dalam berucap dan bicara, akan menyebabkan banyak masalah dan banyak kerusakan karena lisannya. Banyak pertengkaran, perseteruan dan juga permusuhan hanya karena lisan seseorang.

Dari ‘Uqbah bin ‘Aamir, dia berkata, “Aku bertanya, wahai Rasulallah, apakah sebab keselamatan?” Beliau menjawab, “Kuasailah lidahmu, hendaklah rumahmu luas bagimu, dan tangisilah kesalahanmu”. (H.R. Tirmidzi, no.2406)

Nah lalu apa yang harus kita lakukan agar kita bisa menahan lisan kita dengan baik. Tidak gegabah dengan selalu bicara tanpa ilmu. Atau bahkan tidak selalu mengomentari apa apa yang nampak di depan mata kita.

Pertama, seorang mukmin harus mencoba untuk melakukan perbaikan dalam dirinya. Salah satunya adalah dengan berbicara kecuali hanya karena kebaikan. Bukan asal bicara dan bukan asal mengatakan sesuatu saja. Sepert kita tahu, banyak manusia yang tergelincir dalam perkataan perkataannya. Selalu tidak cermat dalam menilai masalah masalah di depannya.

Imam An-Nawawi rahimahullah berkata, “Ketahuilah, sepantasnya bagi setiap mukallaf (orang yang berakal dan baligh) menjaga lidahnya dari seluruh perkataan, kecuali perkataan yang jelas mashlahat padanya. Ketika berbicara atau meninggalkannya itu sama mashlahat-nya, maka menurut Sunnah adalah menahan diri darinya. Karena perkataan mubah bisa menyeret kepada perkataan yang haram atau makruh. Bahkan, ini banyak atau dominan pada kebiasaan. Sedangkan keselamatan itu tiada bandingannya.

Kedua, cermat sebelum berbicara. Bukan kita dilarang bicara sama sekali. Hanya saja kita diharapkan untuk bisa menahan diri dari banyak bicara. Bicara yang tidak bermanfaat dan bicara yang berpeluang untuk mendapatkan keburukan keburukan. Bicara tanpa data, bicara tanpa memeriksa kebenarannya.

Hal ini seringkali terjadi karena keinginan seseorang untuk tampil paling cepat menyediakan informasi. Selalu menjadi nomor satu dalam banyak hal. Maka dia terjebak pada posisi keinginan untuk tampil nomor satu terus. Saking karena ingin menjadi nomor satu inilah, maka seseorang menjadi kurang cermat dalam meneliti data data dahulu apa yang dia katakan.

Imam Asy-Syafi’i telah berkata, ‘Jika seseorang menghendaki berbicara, maka sebelum dia berbicara hendaklah berpikir, jika nampak jelas mashlahat-nya dia berbicara, dan jika dia ragu-ragu, maka dia tidak berbicara sampai jelas mashlahat-nya.’” [Al-Adzkaar, 2/713-714, karya Imam An-Nawawi, tahqiiq dan takhriij Syaikh Salim Al-Hilaali, penerbit Dar Ibni Hazm, cet. 2, th. 1425 H / 2004 M].

Terlebih lagi jika topik topik pembicaraan adalah topik pembahasan yang terkait dengan ilmu. Kalau seseorang tidak mengilmui, maka sebaiknya dia menahan diri dari berkata tanpa ilmu. Karena perkataan tanpa ilmu akan sangat berbahaya.

Banyak Mendengar

Selain menahan diri untuk tidak banyak bicara, seorang mukmin harus membiasakan diri untuk banyak mendengar. Mendengarkan kebaikan kebaikan iman dalam dirinya. Tidak menjadi pribadi yang menutup diri dari masukan dan nasihat. Tetapi terus menerima dan siap dengan masukan masukan dari banyak kawan kawan.

Imam Abu Hatim Ibnu Hibban Al-busti dalam kitabnya Raudhah Al-‘Uqala wa Nazhah Al-Fudhala menyampaikan, “Orang yang berakal seharusnya lebih banyak mempergunakan kedua telinga daripada mulutnya. Dia perlu menyadari bahwa dia diberi telinga dua buah, sedangkan diberi mulut hanya satu adalah supaya dia lebih banyak mendengar daripada berbicara.”

Mereka yang lebih banyak mendengar akan berpeluang untuk mendapatkan banyak kebaikan kebaikan dalam hidupnya. Banyak mendapatkan ilmu baru yang bermanfaat dan senantiasa menjadi pribadi yang lebih baik di masa masa yang akan datang.

Burhan Sodiq

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *