Jangan Menjadi Pribadi Penunda

Oleh Burhan Sodiq

KITA memang manusia yang terbiasa menunda dalam kebaikan. Jika ada kebaikan, kita sering merasa nanti nanti saja. Masih ada waktu dan bisa diraih kapan kapan. Tidak perlu sekarang, masih selalu ada kesempatan. Sehingga masalah masalah kebaikan akhirat selalu dinomorsekiankan. Tidak menjadi prioritas, malah menjadi sebuah penundaan yang terus terusan.

Jelas saja ini tidak baik. Karena menunda kebaikan bukan satu hal yang disyariatkan. Jangan sampai kita menjadi orang yang suka mengulur ulur waktu untuk baik. Tetapi malah menjadi rakus jika hal itu urusan urusan dunia.

Jika ada pengumuman di depan mata. Siapa yang cepat, dia akan dapat hadiah berupa mobil keren. Maka apa yang akan kita lakukan? Kita akan berhamburan mengejar kesempatan itu. Tidak akan kita sia siakan begitu saja. Srreet langsung maju ke depan? Kenapa? Mobil mewah, siapa yang tidak mau. Semua pasti mau.

Itulah yang sering kita jumpai. Anak anak muda suka sekali menyegerakan hal hal yang ada kaitan dengan nilai dunia. Kalau soal dunia, langsung cepat. Tetapi jika soal akhirat, suka menunda nunda.

AYO DIUBAH!

Kebiasaan seperti ini baiknya segera diubah. Jangan dibiasakan menunda nunda kebaikan. Bersegeralah dalam kebaikan kebaikan. Ajaklah jiwa ini untuk menyukai bersegera dalam kebaikan. Karena hal ini akan membiasakan jiwa kita terbiasa dengan kebaikan kebaikan amal.

“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertaqwa.” (Ali Imran: 133)

Di dalam Al-Qur’an, Allah selalu menggunakan bahasa yang menggugah agar manusia jangan berlambat-lambat melainkan bersegera menuju kebaikan. Kata wa saari’uu pada ayat di atas adalah salah satu contoh. Dalam surat Al-Baqarah: 148 ada contoh yang lain lagi, Allah berfirman: fastabiqul khairaat (maka berlombalah kalian dalam kebaikan). Antara kata wa saari’uu dan fastabiquu sekalipun intinya sama, yaitu bersegera dan bergegas menuju suatu tujuan, tetapi masing-masing mempunyai makna khusus: Dalam kata wa saari’uu yang ditekankan adalah kesegeraan bergerak, tanpa sedikit pun ragu, dan tanpa bertele-tele memikirkan sesuatu di luar itu, sehingga membuatnya tidak maksimal.

Penting untuk dicatat bahwa Al-Qur’an telah begitu dalam menggugah agar umat Islam tidak menjadi umat yang berleha-leha. Melainkan umat pelopor dalam segala kebaikan. Tidak ada rumus istirahat dalam Al-Qur’an, maka begitu seseorang mengaku sebagai hamba Allah di saat yang sama segera bergerak melakukan segala kebaikan yang tak terhingga luasnya: dari sejak bangun tidur sampai tidur kembali, dan dari urusan masuk kamar mandi sampai urusan kenegaraan. Semua dalam Islam ada aturannya, yang jika itu semua diikuti dengan niat ketaatan kepada Allah, akan menjadi potensi kebaikan yang luar biasa pahalanya.

Jadi intinya adalah, kita sebagai anak muda harus bergegas. Bergegas untuk apa, bergegas menuju kebaikan dan juga menuju ampunan Allah. Tidak leha leha, tidak pula malas malasan dalam beramal shalih. Harus selalu mengutamakan kebaikan dibanding dengan yang lainnya.

Rasulullah saw. bersabda, “Bersegeralah kamu sekalian untuk melakukan amal-amal yang shalih, karena akan terjadi suatu bencana yang menyerupai malam yang gelap gulita dimana ada seseorang pada waktu pagi ia beriman tapi pada waktu sore ia kafir, pada waktu sore ia beriman tapi pada waktu pagi ia kafir, ia rela menukar agamanya dengan sedikit keuntungan dunia. (H.R. Muslim)

Banyak di antara kita berpikir bahwa kita masih muda. Usia masih sangat belia, sehingga tidak mengapa jika kita menunda nunda. Padahal kita semua tahu bahwa soal maut, bisa datang kapan saja. Kita tidak tahu rahasia Allah soal maut kapan akan datang. Maka menyegerakan diri dalam soal berbuat baik dan meminta ampunan kepada Allah adalah satu hal yang sangat baik.

Ini Karakter Saya, Susah Mengubahnya!

“Saya memang seperti ini. Susah bagi saya untuk berubah.” Seseorang bisa berubah jika dia tahu manfaat dari perubahan itu. Jika dia tahu betapa hebatnya manfaat bersegera dalam kebaikan. Dia akan mengejar apa yang menjadi tujuannya.

Beda halnya dengan orang yang memang tidak mengerti tujuan hidup. Dia menjalani hidup sekena dirinya. Yang penting dia senang dan menikmati hidupnya. Tidak peduli dengan hal hal baru yang harus dia lakukan.

Orang tahu bahwa menunda itu tidak baik, tapi dia tetap lakukan. Kenapa? Karena dia malas. Dia tidak mengerti apa apa yang baik untuk dirinya. Kalau sudah malas maka akan susah untuk mendapatkan apa yang akan menjadi tujuannya. Maka anak anak muda harus dipahamkan soal kebaikan menjadi orang yang bersegera dalam kebaikan dan ampunan Allah.

Dari Abu Hurairah ra. mengatakan bahwa ada seseorang datang kepada Nabi saw. dan bertanya, “Wahai Rasulullah, sedekah apakah yang paling besar pahalanya? Beliau menjawab, “Yaitu kamu sedekah sedangkan kamu masih sehat, suka harta, takut miskin dan masih ingin kaya. Dan janganlah kamu menunda-nunda sehingga bila nyawa sudah sampai di tenggorokan (sekarat) maka kamu baru berkata: untuk fulan sekian dan untuk fulan sekian, padahal harta itu sudah menjadi hak si fulan (ahli waris) (H.R. Bukhari dan Muslim).

Tidak ada untungnya menunda kebaikan. Maka menyegerakannya adalah sebuah amal yang sangat dicintai. Di saat kita masih muda, masih suka harta dan juga masih takut mati, maka di saat itulah saat terbaik untuk menyegerakan diri dalam kebaikan dan ampunan Allah. [ ]

RUBRIK KEDUA

3 Alasan Kenapa Kamu Tidak Boleh Menunda Kebaikan

Maut Bisa Datang Kapan Saja

Sebagai anak muda yang bijak, maka kita mesti ngerti bahwa maut bisa kapan saja datang. Ia tidak akan memberi lagi kesempatan kepada kita berbuat baik. Saat ia datang, maka semua kesempatan akan hilang. Kita tidak lagi bisa berbuat baik kepada siapa saja. Daripada terlambat, maka segeralah menuju kebaikan dan ampunan Allah.

Jiwa Harus Dididik

Jiwa anak muda cenderung kepada berlena lena dan leha leha. Apalagi jika dia menuruti hawa nafsu dan bisikan setan. Maka dia akan cenderung menyukai hal hal yang santai dan mudah. Tidak suka dengan tantangan hidup. Serta menghindari hal hal yang akan memberatkan jiwanya. Maka jiwa harus dididik untuk gigih dalam kebaikan. Hidup harus diperjuangkan, jangan dibiarkan hilang dan terbuang.

Waktu Kita Tidak Banyak

Rasulullah saw. bersabda, “Bersegeralah kamu sekalian untuk beramal sebelum datangnya tujuh hal: apakah yang kamu nantikan kecuali kemiskinan yang dapat melupakan, kekayaan yang dapat menimbulkan kesombongan, sakit yang dapat mengendorkan, tua renta yang dapat melemahkan, mati yang dapat menyudahkan segalanya atau menunggu datangnya Dajjal padahal ia sejelek-jelek yang ditunggu, atau menunggu datangnya hari kiamat padahal kiamat adalah suatu yang sangat berat dan menakutkan. (H.R. Tirmidzi)

Silakan sukai dan bagikan:

Burhan Sodiq

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *